Treasure today as the utmost give u’ll have

To comprehend the value of one year, just ask the stdent who failed their entrance exams
To comprehend the value of one month, just ask a mother who gave birth to a premature baby
To comprehend the value of one week, just ask the editor of weekly newspaper
To comprehend the value of one hour, just ask the lovers who are waiting to meet
To comprehend the value of one minute, just ask the people who missed their stop on the train
To comprehend the value of one second, just ask the person who managed to avoid an accident just in time
To comprehend the value of one tenth of a second, just ask the person who ended up with a silver medal at the olympics…

(24hours TV, Yuuki)

Berikut episode di mana kami belajar memahami kalimat tersebut..

Jumat, 22 Mei 2009

Pk.15.30…menuju manggarai langsung dari Rumah Sakit segera selesai berdinas. Berpamitan hendak telat jam 16.30 baru sampai pasar minggu. Ntahlah, hati menangkap sinyal kekhawatiran… Tenang, sebentar lagi pulang, bersama kawan…

Pk. 14.30… Sampailah pada hunian hati yang kedua…si tiga belum datang.. mendapat kabar Depok hujan deras…Ah, semoga ia yang (kukira) dalam perjalanan dari depok baik-baik saja..
Telepon tak berbalas…mendung yang menggelayut di hari berubah jadi hujan deras… menatap ke arah jendela…berharap setiap pergerakan adalah kedatangannya…

Aah, perasaan apa ini… menanti, gelisah tak tentu…Dua hati mencoba saling menghibur…menyantap hidangan sepiring berdua…membahas rencana perjalanan yang akan dimulai…tertawa…mencoba menyamarkan resah…
Waktu terus mengantarkan senja…menyampaikan perpisahan sang penguasa siang…membuncahkan kekhawatiran bersama hujan…

pk.17.30…terdengar kabar hati ketiga kuyup dalam perjalanan…
“Ayo! kami menunggumu!! Cepatlah datang, masih mungkin untuk mengejar kereta kita!!”
Hati kedua mulai mengkalkulasi waktu…memberi satu dua petunjuk jalur yang memungkinkan untuk dilalui dengan cepat…

pk.18.00…adzan…dua hati masih menyempatkan menghadap pada Sang Penguasa Waktu…

“Ayolaah…sekali iniii saja, lambatkan laju kereta untuk kami…berilah kami kesempatan untuk berangkat bersama sesuai dengan rencana”Sungguh, jika ada doa yang paling khusyuk, maka ini salah satunya..(manusia..manusia..)

Menunggu dengan gelisah, mencoba mengalihkan pikiran dengan obrolan ringan bertema “mengubah satu dolar menjadi beribu dolar” (dalam bentuk pohon tentunya hehe) Namun…

18.15…
“tak bisa, macet!! posisi masih di tanjung barat, kalian duluan saja” hati ketiga menjerit!
“tak mungkin, kami akan menunggu di sini”
“macet…tak bergerak”
Hingga akhirnya muncul ide itu:
“Sudah, kau naik taksi saja dari tanjung barat, kami naik dari sini, Kita bertemu di Jatinegara”

Sepakat. Semua bergegas mencari taksi.
Dua hati bergegas menyusur gang setengah berlari. Tak peduli genangan air mengotori kaos kaki, menciptakan noda pada ujung rok. Tanpa rela menyisakan sedikit waktu tuk membuka payung, menebas gerimis yang masih tersisa.
Mencoba membuka pembicaraan, namun selalu terputus karna tak mau melanjutkan kata “seandainya…”

Sampai pada ujung gang, menatap nanar ke arah jalanan (hingga tanpa sadar hampir menyeberang), Mencari taksi!! Tak sadar bahwa ada taksi berlampu terang melintas depan mata. hingga akhirnya menjerit bebarengan “Taksiiii!!”

“Stasiun Jatinegara, Bang!! cepet y!!”
“Ngebut Bang, lagi ngejar kereta nih”
“Saya tahu yang anda mau” Abang taksi mencoba berkelakar.
“Mau ke Jawa, Neng? Naek kreta yang jam stengah sembilan ya?”
“Nggak, Bang. Jam 7 kreta kami berangkat!
“Yah, neng…itu mah tergantung amal perbuatan. Klo gitu jalurnya terserah saya y!” Sahut si Abang Taksi.
“Yang penting nyampe d, Bang!!” dan saat itu nasib kami bergantung pada si abang taksi dan traffic jam weekend…
Taksi melesat, menerabas, mengumpat…(abangnya yang mengumpat…)

Doa masih tetap mengalun lirih…berpendar menyaingi ratusan bahkan ribuan lampu jalanan…
Allah…sungguh hanya dengan seijinmu…
Allah…mohon untuk kali ini…
Mulai meracau semua bahasa dalam doa…
Menghibur diri dengan bercerita
“dulu ada seorang temanku yang sukaa banget in a rush seperti ini, menegangkan, challenging!!”
“Sudahlah, yang penting nyampe dulu. Gw g mau mengenangnya sekarang, kita masih punya waktu…”
“Jadi ingat suatu pepatah; suatu usaha seringkali ditentukan pada detik2 terakhir…ya, semoga usaha kita worthed”

Sms datang:
“Udah dimana neng ami?jgn lp bw makan malem y..brg2 bharga dijaga..ati2 pas tidur d kreta y..”
Ahaha…speechless untuk balas sms satu ini…maaf…kami tak sempat memikirkan makan malem y, Bu…
Sms lain
”lg nunggu kreta?” “masi di taksi, in a rush!” “EEE! Giri ja! koq mepet banget, Bu, iya, moga2 kekejar”. Sungguh, tambahan satu dua doa lagi dari kalian semoga bisa mengantarkan kami on time.

Kembali fokus pada argo taksi (terserah mau harganya berapa, tapi jam di sampingnya menunjukkan detik2 kian kritis…)
“perlu kita telponkah ia?”
“Coba aja”
“Kau coba, gih!” mulai saling melemparkan telepon (note:tentu bukan teleponnya yang dilempar)
Tiba-tiba…salah satu telepon berbunyi…
“Sudah sampai otista”
“Aah…sebentar lagi semoga. kami juga hendak sampai”
Stasiun Jatinegara. Berlari. Tiga belum datang.

“Pak, sawunggalih belum datang kan, Pak?berapa lama lagi??”
Huff…sedikit menarik nafas lega. 5 menit lagi…ayolaaah kamu pasti bisa..
“Nunggu di pintu yuk” menatap berharap tiap ada taksi lewat…melirik cemas antara jam dinding dan jalanan…Bismillah…ya Allah…tolonglah…
“Kau pegang karcisnya…tanganku gemetar…”
“Sama Mi..perlu telepon dia?”
“takutnya makin panik…” “iya”
“Segera datang, kereta sawunggalih utama di peron satu dengan tujuan..bla..bla…purwokerto…bla..bla…” Suara pengumuman dari pihak stasiun tak jelas berpacu dengan detak jantung kami…
“telepon!!”
“kau saja!!”
“Nggak mau, kau yang telepon!!”
Gemetar mengangkat hp yg selalu dipegang, mencoba mendial suatu nomor yang ada di dial list yg pertama.
“Halo…di mana?”mencoba suara senetral mungkin, dibumbui sedikit tawa (tawa miris mungkin aslinya..) “Hampir sampai” aaaahhh…cepatlah…

“Kereta sawunggalih utama di peron satu siap diberangkatkan” terdengar pengumuman maut yang sungguh merupakan suara-paling-tak-ingin-kami-dengar saat itu.
Bergegas berlari ..bingung..desperate..“Tunggu…ia gimana?” “Trus mau gimana lagi??”
“Nggak mau. kita janji pergi bertiga, harus benar-benar bertiga”
“Lalu gimana” “Kita cari tiket lain” bergegas ke arah loket tiket…Sungguh tak tahu harus bagaimana…saat itu kira-kira 5 detik sebelum kerete berjalan
“Itu dia..!!!.”
Tiba-tiba…sepersekian detik rasanya dapat bernafas lega…tanpa banyak pikir kami…tiga hati yang terikat sebuah janji, berlari ke arah kereta..

Count down…
4th sec: Bapak penjaga tiket membentak kami! “Suruh masuk dari tadi!” tersamarkan bunyi peluit kreta
3rd sec: ku berhasil naik ke gerbong terdekat melihat dua rekanku dibantu naik
2nd sec: dua naik
1st sec: ketiganya naik dan kereta langsung berjalan…..

Allah…jikalau di dauroh, kajian, atau aksi yang lain kami bertakbir sepersekian hati…Maka kali ini sungguh segenap hati bergemakan takbir!! Ingin segera sujud dan menangis..
Allah mohon ampun akan segala prasangka buruk padaMu…akan kekhawatiran doa yang tak tersampaikan padaMu…Sungguh kau tunjukkan keajaibanMu pada malam ini…bahwa ada makna dalam tiap detik waktumu…bahkan dalam tiap seperkian detiknya…

You came over me…in a rush, and I realise that I love you so much…

“ini gebong berapa y, Pak?” saatnya mencari tempat duduk…kaki mulai lemas…
“gerbong 7, memang mbak gerbong berapa?”
“GERBONG 12!!” ada yang menjawab dengan lantangnya..
“Mana ada gerbong 12…” para bapak di gerbong itu mengomel
“EEeeee…!!!”

~ditulis berdasarkan daya ingat dan waktu yang terbatas, sungguh berterima kasih pada setiap pihak yang terlibat (esp. Abang Taksi!)~

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s