Temple Grandin (Children are different, but not less)

“nature is cruel but we dont have to be. we owe them  some respect”

“i touched the first cow as it was being stunned. in a few second, it was gonna be just another piece of beef, but in that moment, it was still an individual. it was calm and then it was gone. i became aware of how precious life was. And i thought about death and i felt close to god. i dont want my thoughts to die with me. I want to have done something.”

”there are alot of things i cant understand,but i still want my lifeto have meaning.”

Merasakan perbedaan cara berpikir dengan lingkungan sekitar pada orangnormal saja sangat sulit. Tak jarang bahkan orang menyerah pada hal yang iayakini hanya agar di anggap sama dg yang lain. Temple Grandin (Claire Danes) menderita autistic,namun ia cukup mampu mengalahkan ketakutannya, serta kebencian pada orang-orang karena ia berbeda. Ia bahkan berhasil meraih doktor dan melakukan berbagai inovasidalam bidang ilmunya. Apa yang membuatnya bisa melewati semua itu?  Sedari awal,Temple Grandin punya support system utama: Keluarga.

Awal adegan menceritakan bagaimana perjuangan Mrs.Grandin ketika ia merasakan bahwa anaknya menderita masalah. Mrs.Grandin, ibunda Temple, digambarkan sebagai sosok yang tidak menyerah dengan kondisi anaknya. Hasil pemeriksaan menyatakan Temple Grandin menderita autistic, dan mungkin tidak akan bisa bicara seumur hidupnya. Namun si Ibu meragukannya. Ia berusaha dengan segala macam cara mengajari Temple bicara. Dan yap, akhirnya Temple bisa mulai bicara.

Perjuangan Mrs.Grandin semakin berat, ia harus mulai memperkenalkan dunia sosial yang sangat dibenci temple: sekolah.  Bukan hanya pilihan sekolahnya yang memusingkan, namun juga kesiapan Temple untuk memasukinya. Setiap tahapan kehidupan diperkenalkan pada Temple sebagai sesuatu yang harus ia hadapi namun juga terdapat kebebasan untuk memilih sesuatu yang paling disukainya. Terlihat dalam film ini betapa Temple mempunyai karakter dasar untuk selalu memperjuangkan cita-citanya.

Keyakinan. Mrs.Grandin punya keyakinan bahwa anaknya pun akan tumbuh dengan baik meski ia berbeda. Different, but not less. Dan keyakinan Ibundanya inilah salah satu yang membentuk karakter temple hingga ia mampu melewati masa-masa sulit disekolahnya. Didukung oleh guru yang mampu menggali kejeniusannya, Temple belajar untuk selalu siap memasuki pintu gerbang menuju dunia barunya. Ia pun beruntung menemukan teman yang akhirnya paham akan keunikan dirinya. Seluruh aspek tersebut meramu pembentukan karaktenya kemudian.

Nah, bagaimana caranya agar mampu mendidik anak seperti Mrs.Grandin?

Ada adegan Mrs.Grandin yang membuat saya nyengir lebar di sinema ini, ketika ia meminta penjelasan dari dokter tentang masalah anaknya dan si dokter meminta bicara dengan suaminya. Mrs.Grandin menjawab:“My husband is avery busy man, and I’m graduated from Harvard so why don’t youtry me?”

Hehehe..-noffens pada para bapak akan jawaban Mrs.Grandin- namun tepat sekali salah satu faktor yang penting untuk bersiap mendidik anak memang pendidikan, baik formal maupun non formal. Jadi saya sepakatlah sama Emma: “Parenting is not a destination, but a journey. For anyjourney,you need to be prepared.”

Hum..tapi setiap anak itu istimewa dengan perbedaannya masing-masing. Sepertinya kuliah di psikologi atau mengambil spesialis keperawatan anak/keluarga maupun mempelajari tentang anak di tempat lain selama bertahun-tahun pun belum tentu berhasil mengatasi semua halyang berkaitan dengan tumbuh kembang anak.

Jadi, saya makin sepakat sama Putri:“menjadi orang tua itu tidak cuma belajar,dari buku, observasi atau pengalaman dari orang tua. tapi juga belajar dari anak itu sendiri. susah kalau ngomong siap atau nggak karena daur belajar akan terus berputar dan berevolusi.. aku lebih sepakat kalau siap diartikan sebagai siap mental dansiap iman, dan seharusnya 9 bulan kehamilan cukup menjadi tamparan tiap orangtua (ibu dan ayah) untuk memboost-up diri. dan tiap kendala yang dihadapi, tiaptantangan, tiap ketidakberesan dan kekacaruan yang terjadi itu merupakan bagiandari daur belajar itu sendiri.” Saya rasa itu yang dilakukan Mrs. Gardin. (Bubil kereeenn!! Salam kecup bwat Super Sarah!!)

Hum…itu salah satu insight saya sih, ditambah diskusi singkat di statusnya Emma. Hehe..terserah mau sepakat atau tidak. eh, tapi somehow saya sangat percaya, keyakinan orang tua pada anak merupakan faktor pembangun utama pada karakternya (paling tidak itu yang saya rasakan)

Oh ya,jika ada yang tertarik mengunduh film-nya, ini ada beberapa link yg saya temukan

MF:

part 1 – http://www.mediafire.com/?v8b8pyqkyhccemp

part 2 – http://www.mediafire.com/?ykap3zytz58urdc

part 3 – http://www.mediafire.com/?mip67dax4jw617z

part 4 – http://www.mediafire.com/?ozs9y6dr7hqyiub

atau single linknya:

MU:http://www.megaupload.com/?d=TDS311D5

HF:http://hotfile.com/dl/60166613/b0981/Temple.Grandin.2010.DVDRip.XviD-TASTE.avi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s