Prejudice?? #1 (Lets call it “self-sufficient”)

“Tidak hanya laki-laki, para perempuan Aceh pun mengambil rencong dan menyisipkan ke pinggangnya. Dengan tangan kiri menggendong sang jabang bayi, para perempuan Aceh ini segera berlari masuk hutan guna menyusun kekuatan.
Dikala malam tiba, sambil terus bersiaga dalam gua-gua yang gelap gulita, para perempuan Aceh nan perkasa ini meninabobokan jabang bayinya dengan senandung “Dododaidi”. Senandung jihad itu meluncur pelan dari bibir-bibir yang kerap berpuasa dengan iringan music desakan angin serta gemerisik dedaunan hutan”
*
Dulu, semasa saya masih usia preschool, bapak saya pernah bilang “Memangnya kenapa? anak perempuan juga kuat, balik lawan kalau ada yang nakal!” ungkap beliau saat saya mengadukan kebandelan serombongan teman laki-laki yang menguasai sebagian besar mainan di TK. Dan benar saja, besoknya saya mengajak kawan-kawan saya yang perempuan untuk ‘memperjuangkan’ hak kami atas ayunan dan perosotan pula. Untunglah semenjak itu kami bisa bergiliran memakainya. Hehe..Ada bakat feminis dari kecil? Mungkin. Tapi bapak saya salah satu sutradaranya.

Awal saya mengenal hijab di SMP, saya sempat kesal dengan yang namanya perempuan berjilbab. Somehow saya melihat mereka –teman saya yang berjilbab- cenderung ribet,kucel, lemah, dan kurang aktif. Namun sekali lagi, justru Bapak saya sangat semangat mendorong anak perempuannya berjilbab “tunjukkan kalau muslimah itu tetap rapi dan aktif dengan jilbab, itu identitas!”

Hingga akhirnya saya memilih kuliah di fakultas keperawatan yang sesuai perkiraan mayoritas perempuan, semakin menuntut kami –saya dan teman-teman- untuk mandiri.Urusan panjat-memanjat untuk memasang spanduk, Paku-memaku lemari kayu ruang student center,angkat gallon sampai lantai lima, listrik, memperbaiki keran yang rusak, hingga urusan install computer berusaha dikuasai agar paling tidak kami tidak harus selalu merepotkan teman lelaki (apalagi urusan computer di kosan, jangan sampai deh ada laki-laki yang masuk cuma gara-gara computer kena virus). Kemandirian identik dengan Feminis? Saya rasa tidak. Saya hanya tidak ingin merepotkan.

Bawaan didikan di rumah mungkin, berhubung bapak saya ‘malas’ sekali setiap dimintai tolong dan justru mengajak anak-anaknya berkompetisi dengan beliau. Bapak saya patriakal sebagaimana rata-rata orang jawa pada umumnya, saya lebih sering kena marah karena nggak bantu Ibu di dapur daripada nggak belajar. Namun sungguh saya respek sekali dengan beliau (Bapak, dan beberapa laki-laki yang terlibat dalam pengembangan diri saya). Jadi, sebenarnya setiap kali ngomongin gender equality, saya cenderung conventional. Enggan menuntut atau ribut-ribut. Saya suka sekali mengutip kalimat di dalam novel Jane Austine yang pernah saya baca:
“He is a gentleman; I am a gentleman’s daughter; so far we are equal” (Pride and Prejudice, chapter XIV)

Jadi, biarkan masing-masing berjuang dan bertanggungjawab pada optimalisasi amalnya. Toh Tuhan tidak membeda-bedakan gender bukan?
~Hum..kenapa sih saya ngomongin ini? Mungkin karena sahabat baik saya baru saja melabel feminis pada saya..ahahah..gak tahulah… (ini tulisan curcol banget yak? padahal maunya nulis yang ilmiah disini..tapi biarlah..itung-itung appresiasi bwat Bapak saya tersayang haha..)~

*sumber: The Untold History: konspirasi Penggelapan Sejarah di Indonesia.Eramuslim digest, Edisi Koleksi 9

7 thoughts on “Prejudice?? #1 (Lets call it “self-sufficient”)

  1. hahahahaha….. gw ga bilang lo feminis koq. tapi tanpa disadari, ketika kita (lo, apalagi) berinteraksi dan berdiskusi tentang peran gender lo sangat terlihat kecenderungan pembelaan ke arah sana. defense ceritanya. hehehe

    gw mendukung adanya keseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan. tapi gw enggan berdebat untuk itu. karena bahkan di antara perempuan sendiri masih ada perbedaan pendapat yang tidak ada ujungnya. biarlah perempuan menjalani apa yang ia yakini baik bagi dirinya, bagi keluarganya dan baik bagi masyarakat. selama ia tidak menyalahi keyakinannya sendiri dan tidak menjadi sesuatu yang menghancurkan tata nilai masyarakat.

  2. ada kutipan menarik dari novel siti nurbaya

    “…. Janganlah dipandangnya kita sebagai hamba atau suatu makhluk yang hina. Biarlah perempuan menuntut ilmu yang berguna baginya, biarlah ia diizinkan melihat dan mendengar segala, yang boleh menambah pengetahuannya; biarlah ia boleh mengeluarkan perasaan hatinya dan buah pikirannya, supaya dapat bertukar-tukar pikiran, untuk menajamkan otaknya. Dan berilah ia kuasa atas segala yang harus dikuasainya, agar jangan sama ia dengan boneka yang bernyawa saja.” (hlm. 277)

  3. “…tanpa disadari, ketika kita (lo, apalagi) berinteraksi dan berdiskusi tentang peran gender lo sangat terlihat kecenderungan pembelaan ke arah sana. defense ceritanya”
    iya kali ya, ma? Yalah…People are never free of prejudice from what we’ve perceived over the years of our life, arent they?

    Quote-nya oke! Gw jd inget sms-nya Wenny pas gw mo ujian SIMAK UI (in a way it was boasting my spirit):
    “Berilah pelajaran kpd anak2 perempuan;dari sinilah peradaban bangsa dimulai!Jadikanlah mrk ibu2 yg cakap,cerdas&baik,maka mrk akan mnyebarluaskan peradaban diantara bangsanya.kpd anak2nya peradaban&kpandaian mrk akan diteruskan.”(Nota RA.Kartini kpd Idenburg).

    Zaujatu muti’ah, ummul madrasah, lahir dari mar’atusholihah..
    Dan sholihah jg utk ummat.. haih..haih..beratnyooo! :))

  4. Yuk kita mencukupkan diri sebagai seorang muslimah, tanpa perlu embel-embel muslimah feminis, muslimah sosialis, atau lain-lain. Toh Islam sudah menjawab segala yang dipersoalkan dalam gerakan embel-embel itu.

    Tapi gue lagi baca bukunya Amartya Sen: Kekerasan dan Ilusi Identitas. Menurut dia, akar dari konflik kekerasan berbasis agama justru karena pemilahan dengan pendekatan “soliteris” atas identitas manusia. Jadi manusia cuma dipandang sebagai bagian dari satu kelompok saja.

    Inget waktu kita rame-rame diskusi di KAPAL Perempuan, dan mbak Lita nembak kita dengan pertanyaan: “dulu waktu di kampus, aktif di KAMMI ya?”…he3

    1. “Di UI nggak ada KAMMI, mbak Lita..adanya KITA” *LOL! :))

      Gw sepakat ma Amartya Sent Mbak. Klo istilah gw n Rika: Politik Identitas. Eh lo masi inget kan, soal temen gw yg ngaku ‘merah’ dan stereotype dia soal geng ‘hijau’??
      Kesimpulannya pake lagunya Sherina aja😛
      “Janganlah sedih, janganlah resah, jangan terlalu mudah berprasangka. Lihat segalanya lebih dekat dan kita kan menilai lebih bijaksana”

  5. Eh, ‘politik identitas’ itu dari gueee…
    Tapi ada kacaunya juga dari pendapat Sen. Ntarlah kita bahas kalo gue udah selesai baca bukunya:D

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s