‘Farhanitrate Prerajulisation’ (Ep.2: Doa-doa Raju)

Raju

Ingat pengakuan tentang doa-doanya??

Kata Raju, nilai-nilai nya saat kuliah jelek bukan karena dia bodoh, tapi justru karena dia punya rasa takut berlebihan, khawatir, hingga akhirnya lari ke doa puja-puji pada Tuhannya.

Pada kasus ini, orang-orang bumi yang mengedepankan rasio mungkin akan bilang: “lakukan usaha yang terbaik! Tak ada gunanya doa-doa itu! “

Orang-orang langitan mungkin juga akan bersikukuh:” Tuhanlah penguasa segala sesuatu, tak ada hal yang terjadi diluar kehendakNya. Maka berdoalah!! “

Dan orang orang langitan tapi berkedok bumi (atau sebaliknya) maka akan sesumbar marah:” Tuhan, hamba sudah  berusaha sebaik-baiknya, dan hamba pun tak lelah berdoa padaMu, namun kenapa Engkau tak jua mengabulkan doa hamba?? “maka ternyata mereka lelah, dan akhirnya berbalik menjauhi TuhanNya (atau bahkan lebih buruk lagi, memusuhi kaum yang menyembah mantan Tuhannya).

Di kisah ini Raju mungkin paham tentang konsep ikhtiar untuk mengubah nasib suatu kaum. Ya, niatnya untuk mengubah status perekonomian keluarganya memang sangat mulia, apa lagi ia harapan satu-satunya. Namun inilah penyakit para hero wanna-be: khawatir gagal, khawatir tertinggal. Pelariannya mungkin bermacam-macam, mungkin dengan berbuat curang, atau dengan mengandalkan peruntungan. Raju tergolong cukup religius, beruntung dia tidak mengambil langkah negatif. Hanya saja, ia terpuruk pada lubang orang-orang langitan: berharap peruntungan dari Tuhannya.

Salah? hum..tidak sepenuhnya sih. Dan apa hak saya menjudge salah benar ke orang lain?

Jika memang kita mengimani bahwa Tuhan-lah penguasa segala sesuatu, bahwa semua telah tertulis di KitabNya dari nasib struktur atom terkecil hingga galaksi yang maha dasyat, memang sudah seharusnya kita meminta semua hal kepadaNya. Apalagi dalam kasus Raju, toh dia paling tidak sudah berusaha belajar (ikhtiar). Soal kedalaman kualitasnya,sudahlah itu urusan Raju dan Tuhan yang tahu.

Saya cuma merasa ada yang tidak sinkron di sini: keyakinan akan kemampuannya (ikhtiar) dan keyakinan akan kuasa Tuhannya (doa). Apa yang salah pada doa Raju (telepas dari Tuhan yang berbeda)? Jika benar Raju telah berusaha maksimal dan berdoa,lalu kenapa Raju masih ketakutan??

Ada yang terlewat dalam usaha Raju. Tawakal.

Tawakal seharusnya membuat manusia seperti Raju berpositif thinking, bahwa akan ada balasan akan setiap jenak ikhtiar yang dilakukan.

Ikhtiar itu kewajiban, saya kira semua (bahkan yang-tak-berTuhan pun) sepakat. Kalau mau berhasil ya usaha! Nah, doa itu semacam katalisator sekaligus stabilisator.  Mempermudah pencapaian hasil, sekaligus penyeimbang jika belum berhasil.  Karna dengan berdoa berarti kita sadar bahwa ada ‘Kuasa’ lain di luar kemampuan kita. Hanya saja fungsi ini baru berjalan jika ada tawakal.

Tawakal ini emulsifier ikhtiar dan do’a. Jika berhasil, maka akan tetap mengevaluasi diri: sudah seimbangkah antara ikhtiar dan hasil yang didapatkan? Atau berhasil karena dibantu oleh kemurahhatian Tuhan?? Maka seharusnya tak ada lagi jumawa, dan berhenti pada tahap keberhasilan itu saja. Jika gagal pun berlaku evaluasi yang sama: sudah member ikhtiar yang terbaikkah? Atau tetap bepositif thinking bahwa Tuhan menyimpan doa untuk sesuatu yang lebih baik lagi. Di dunia? oh, saya pun berharap doa saya terkabul di dunia, namun jika tidak…percayakah pada hari ketika manusia dibangkitkan kembali??

Tersebutlah seorang hamba yg terkejut melihat gunungan amalnya,tak merasa ia memiliki amal sholih sebanyak itu selama hidupnya, bertanyalah si hamba:
“Ya Allah,amal sholeh yg mana yang menciptakan gunungan pahala setinggi itu?”
DijawabNya:
“Sesungguhnya itu adalah pahala hasil doamu yg tidak Aku kabulkan”
Dengan masih ternganga si hamba berkata:
“jika begitu aku sungguh berharap tak ada doaku yg Kau kabulkan..”

Tuhan Maha Adil koq. Susah kalau mengkalkulasi keadilan Tuhan pake ukuran koqnitif manusia. Lha wong yang menciptakan Kecerdasan itu juga Tuhan sendiri .

Berikhtiar terbaik, berdoa terbaik. Bertawakal dari awal niat, keseluruhan proses hingga hasilnya.

Sighs..”jangan2 selama ini kita men’tuhankan ikhtiar kita” kata ustadz Yusuf Mansyur yang dikutip teman saya, dan tentu..saya sendiri tak mau tuk patah tulang dulu seperti Raju…

~When the times are very bad, you must not be sad. For Allah could stop it from being bad. But it’s a test for He knows best. And He will test, those He loves best~

*gambar dari sini

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s