MIJIL: Sebuah Doa (Q.S 17:24)

“Dedalane guna lawan sekti
kudu andhap asor
wani ngalah luhur wekasane
tumungkula yen dipun dukani
bapang den simpangi
ana catur mungkur

[“Jalan menjadi manusia berguna (kuat) dan sakti (mempunyai kompetensi tinggi)/adalah sikap rendah hati,/berani mengalah, pada akhirnya dimuliakan,/tunduklah bila dimarahi,/singkirilah angkara murka,/ menjauhlah dari pembicaraan (yang) tak bermutu”]

Tembang macapat (sekar alit) menggambarkan urutan ‘lelakoning manungsa saka mulai bayi abang nganti tumekaning pati’ (perjalanan hidup manusia dari alam kandungan sampai manusia itu mati). Dimana ke sebelas tembang tersebut dimulai dengan Maskumambang (yang menggambarkan kehidupan manusia didalam kandungan) hingga pocung (mayat). Mijil berada pada urutan kedua.

Mijil berarti thukul, tumbuh, bersemi, atau miyos (keluar) yang dalam perkembangan kehidupan manusia diartikan sebagai kelahiran. Tembang Mijil di atas berisi nasehat dan doa setiap orang tua bagi anaknya yang baru lahir. Semoga anaknya bisa menjalani kehidupan guna lawan sekti tersebut.

“So Peace is on me the day I was born, the day that I die and the day that I shall be raised up to life (again)” [Q.S 19:33]

*Esp for Mbak Arie who suddenly laughed at me when she heard the Macapat song in “Sang Pencerah”movie. This one’s my favorite on elementary school that I’ve mentioned before, mbak. Effective for lullabies, indeed haha! =D

10 thoughts on “MIJIL: Sebuah Doa (Q.S 17:24)

  1. Maskumambang, Pucung, Kinanthi, Asmaradana, Sinom, Dhandanggula, Megatruh, Pangkur, Gambuh, Durma.

    Saya favorit dengan kisah wayang, dan mengoleksi cerita soal ini. Tetapi, kurang familiar dengan ( koreksi : Sengaja tidak mengoleksi) tembang jawa.

    Masing- masing kalau tidak salah, fungsi khususnya kan ya ?

    1. wew, hapal!
      Fungsi khusus? nggak paham juga sih. Saya jg sebatas memory SD yg dipaksa ikut lomba macapat di kabupaten😀
      cuma memang katanya filosofi macapat itu ada 2 macam:
      1. terkait alur kehidupan manusia
      Maskumambang (kemambang, di dalam rahim), mijil, sinom (nom,masa muda), kinanthi (dikanthi/digandeng: perlu dituntun untuk menjalani kehidupan), asmaradana(asmara(cinta)+dahana (api) ),gambuh (jumbuh: sesuai/selaras: menggambarkan pernikahan), dhandanggula (rasakecukupan dalam rumah tangga), durma (darma/memberi pada masyarakat), pangkur (mungkur/menghindari hawa nafsu…sudah tua si :P), megatruh (megat roh/ajal), pocung (pocong)

      2. Terkait dg dakwah wali songo
      macapat berasal dari jarwodhosok iman (rukun iman)+panca (rukun Islam)+pathokan, kalo dari terminologi ini filosofinya jadi sedikit berbeda

  2. Jadi waktu itu aku senyum-senyum karena dari sekian tembang yang kau sebutkan itu…yang paling favorit dijadiin ‘senjata’ Mamaku ya Macapat itu. Terutama pada bagian “tumungkula yen dipun dukani”.

    Tapiiii…di film itu konteksnya kan membesarkan/menabahkan hati, sementara kalo Mamaku dalam konteks dia gak mau dibantah😀.

    1. “tumungkula yen dipun dukani” itu jg jadi mantraku dulu tiap Bapak marah-marah, mbak! haha..bisa perang dunia3 kalo ngebantah dikit aja.

      Eh, memangnya Sang Pencerah pake tembang mijil mbak? tebakanku sih bukan..tapi nggak tahu juga apa.

  3. Kalo bukan, berarti aku aja yang kalo denger orang nembang asosiasinya ke tembang mijil..poor me..
    *berarti lirikanku di platinum salah dong*

  4. Iya, itu yang saya maksudkan Mi, tentang epistemologi Tembang Jawa. Dulu pernah dikasih tahu pas kelas 5 SD, oleh Pak Guru, tetapi saya lupakan, karena menganggap pelajaran ini, tidaklah sekeren MIPA : ( dan tidak diEBTANASkan🙂

    Sekarang, setelah saya menghadapi keberlimpahan informasi, bertubrukan dengan konstruksi budaya yang cepat, rasanya kok, ingin mengumpulkan lagi tulisan- tulisan almarhum kakek saya yang mendokumentasikan banyak hal, tentang kebijakan manusia jawa.

    Oh iya, beliau PNS guru SD, di kaki Gunung Lawu yang bersahaja, dan masa mudanya berkelana untuk bisa belajar “kawruh” ke para empu tradisional, yang ahli bikin wayang kulit dan keris. “Kawruh” beliau ini belum sempat diturunkan ke saya, sayang sekali……
    : (

    1. Langsung berguru ke para empu?
      wow.. jangan2 beliau kenal keris kyai nagasasra, atau kyai sabuk inten, atau kyai sengkelat? hehe..kebetulan saat SD jg menemukan tumpukan karya SH Mintardja, terbitan kedaulatan rakyat, koleksi alm. kakek. Sastra yg apik, tak kalah asik dengan baca harry potter (NagasastraSabukinten bahkan sekarang ada cetak ulangnya)

      Kumpulin tulisan beliau, Bang! insyaAllah cukup berguna tuk mempertajam waskita.

      Hmm..coba basa jawa diebtanaskan, dulu saya bs dapet nile 9 tu😀
      *note: doeloe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s