Unity in Diversity

Meluangkan waktu untuk bimbingan asrama (yang dijadwalkan malam hari) disaat harus wayangan mengerjakan tugas dan belajar untuk UTS sangatlah sulit (sighs..either bachelor or master degree still keeps on SKS!! but I’m truly in love with tis study). Yah, program baru. Karena belum dimulai saja mungkin, apalagi saya juga belum mengenal para mahasiswa baru tersebut. Namun malam ini tak ada alasan berkelit dari tugas selaku staff pengajar yang ditempatkan di asrama (haha..masih jg cari2 alasan. excusitis!)

Dengan -setengah- ogah-ogahan saya melangkah ke arah deretan kamar mahasiswa (whew,kamar cowok, bukan pemandangan yang nyaman dilihat buat saya). Menyapa orang tua yang baru mengantar anaknya, dan memanggil salah satu mahasiswa untuk mengajak teman-temannya berkumpul di aula asrama.

23 mahasiswa dan 10 mahasiswi pun terkumpul di aula asrama. Voila!! tiba-tiba rasa malas tadi berganti menjadi rasa syukur tak hingga demi melihat wajah-wajah polos-lugu-bingung- lulusan SMA yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru mereka (reminds me of my past? oh yea! I really miss my matriculation for PPKB-UI-students 2003’s time where I meet friends from Sabang-sampai-Mereauke and discussing about our culture shock living in the evil Jakarta..polosnyaa!haha). Benar-benar baru sepertinya, karena mayoritas mahasiswa merupakan penduduk asli Kalimantan Barat,Jambi,Pontianak, NTB dan hanya ada 1 mahasiswa bersuku jawa (tapi sudah lama bertransmigrasi ke Kalimantan) dan 4 mahasiswa bersuku Sunda (daerah Pandeglang) itu pun lulusan pesantren.

Perkenalan dimulai dan seluruh sistem pendengaran saya pun harus beradaptasi dengan logat dan nama daerah yang benar-benar baru saya dengar. Beberapa masih malu-malu, beberapa terlihat sangat antusias, beberapa menjadi sumber kelakar di antara teman-temannya. Percakapan mengalir cukup hangat, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam (hoh, harus dibikin aturan jam malam ini).

Berada di tengah putra daerah dengan latar-belakang budaya yang berbeda, benar-benar membangkitkan semangat ke-Bhineka-an. Semangat itu yang saya rasakan semalam. Menghapus letih apatisme konsep nation united yang selama ini beredar, dan berharap semoga -yah paling tidak- menjadi sedikit bagian dari solusi masalah yang ada.

Baik, cukup curhatan malam ini. Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (94:7)

Selamat datang teman-teman! selamat belajar!!

(okokok, status saya sekarang: wanita, 25 tahun, dengan 33 anak berusia 17-18 tahun. Barakallah!)

*gambar dari sini

~Oh ya, omong2 bhineka tunggal ika, anyway saat ini sudah setahun pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II berjalan~

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s