nursing students chit-chat

Work thou for pleasure; paint or sing or carve

The thing thou lovest, though the body starve.

Who works for glory misses oft the goal;

Who works for money coins his very soul;

Work for the work’s sake, then, and it may be

That these things shall be added unto thee.

Kenyon Cox—Our Motto.

Pertama kali membaca quote ini sekitar 3 tahun lalu, dikutip dalam sebuah buku Nursing History, asli terbitan Amerika bertahun 18-sekian-sekian (lupa judul, penerbit, dan tahun terbit pastinya, semoga ketemu pas ngublek2 perpus FIK besok). Buku tersebut ditemukan teman saya (Tita) tergeletak di sudut perpustakaan. Dengan semangatnya Tita menceritakan isi buku tersebut pada saya.

“Beneran Mi, kondisi keperawatan di USA saat itu persis seperti kondisi di Indonesia saat ini: belum ada pengakuan, aturan hukum belum jelas, belum ada Nursing Board*. Mirip banget!” ceritanya dengan nada tinggi hamper terpekik.  Saya tersenyum.

“Tapi Mi, lihat selisih terbit buku ini dengan sekarang: 100 tahun!!   Berarti kita harus mengejar ketertinggalan 100 tahun!! Ya ampuunn…” Saya mulai terkekeh..hehehe..

“Kalau dalam buku ini, Mi. Diceritakan dulu juga mereka susah banget membentuk Nursing Board, menggoalkan adanya Undang-Undang Keperawatan yang memayungi Nursing Board tersebut. Tapi, lihat alinea ini..” ujarnya sambil menunjuk salah satu halaman dimana puisi Kenyon Cox tersebut tertulis.

“Kata mereka: sulit menuntut orang untuk mengakui keberadaan kita. Sudahlah, bekerjalah professional. Dan biarkan masyarakat menilai. Butuhkah mereka akan kemajuan dalam bidang keperawatan? Dari situlah seharusnya tuntutan pengesahan RUU Keperawatan kita dimulai. Dari kebutuhan masyarakat. Nggak seperti sekarang, Cuma perawatnya aja yang menuntut. Mana mau DPR dengar, kecuali tiba-tiba mereka kena DM, MCI, stroke, CKD…dan penyakit kronis lainnya yang butuh long term care…

“Hush, nyumpahin orang kau, Ta! haha..” potong saya.

“Tapi benar kan, Mi. Bahkan perawatnya sendiri pun seberapa sih yang aware dengan perkembangan profesi mereka? Prof. Yani itu orang yang sangat diakui di ICN (International Council of Nursing-red) loh! Pikirannya maju. Cuma sayangnya, mungkin saking majunya, kebanyakan orang PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia or INNA-Indonesian Nursing Association- red)  di bawahnya kewalahan mengikuti pola berpikirnya. Alhasil kebijakan PPNI sekarang sulit dirasakan di tingkat terbawah” jelas Tita yang memang cukup aktif di ILMIKI (Ikatan Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia) yang tentu lebih tahu masalah di profesi kami, dari pada saya yang kerjaannya main ke pusgiwa (pusat kegiatan mahasiswa UI)

“Bukankah itu memang masalah orang Indonesia, Ta? Pendidikan. Kita tahu persis orang Indonesia itu pinter-pinter, tapi bahkan macam Pak Habibie pun sepertinya lebih diakui di Jerman dari pada di negeri sendiri. Kesenjangan kognitif mungkin hehe..” respon saya

“Nggak usah pesimislah Ta, S1 keperawatan di Indonesia saja baru terbentuk di tahun 1985. Ya usia profesi kita masih sekita-lah. Masih labil. Guru besarnya pun baru dua. Bandingkan dengan professor disiplin lain. Bolehlah kita nanti tambahin jumlahnya hehe”

“Ya sih, Mi. tapi nggak bisa juga kalau RUU keperawatan kita nggak segera disahkan. itu mengurangi otoritas PPNI untuk mengatur anggotanya sendiri. Lagi pula demi pasien juga toh, melindungi pasien dari malpraktek perawat misalnya. Oh ya, aku tahu Mi..biar ada support hukum, tar nikah sama anak FH aja, Mi. Perkawinan politik hahaha” Tita mulai delirium

“Haah, nggaklah. Aku mau menikah atas nama cinta..hueeekks… Lagian adikku sudah masuk FH tuh. Haha!”

“Oh kalau gitu yang lainlah…siapa ya, yang mau jadi presiden?? Hahaha”

“Ta! Ta!” –sambil goyangin pundak Tita, prosedur awal first aid untuk mengecek  respon kesadaran pasien- “kayaknya  GCSmu kurang dari 15 yah?”

Tita sewot,” dasar!!”

p.s: chit-chat 3 tahun lalu..selagi kami berdua baru lulus bachelor degree, dan sedang mempersiapkan diri menghadapi kejamnya tahap profesi (halah hehe) . Tapi permasalahannya sampai sekarang sepertinya masih sama.  Padahal PPNI beranggotakan sekitar 500rb perawat Indonesia (60% tenaga kesehatan) dan tergabung dalam ICN di mana anggotanya merupakan 80% jumlah tenaga kesehatan dunia. Jumlah yang cukup besar bukan? Seharusnya jika fungsi keperawatan dapat optimal sepertinya berpengaruh cukup signifikan dalam pembangunan kesehatan…bagian dari solusilah!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s