dilarang me(T)uhankan ikhtiar!!

Dalam bukunya Good to Great, Jim Collins mengungkapkan pernyataan yang mengejutkan dari hasil wawancaranya dengan Admiral James Bond Stockdale. Stockdale adalah seorang perwira US Navy yang ditawan selama delapan tahun (1965-1973) sewaktu perang di Vietnam. Disiksa lebih dari 20 kali dan menjadi eksperimen psikologis perang. Dari pengalamannya, Stockdale menyatakan bahwa tawanan yang paling cepat mati adalah mereka yang optimis!!

“Si optimis? Aku tak paham”, kata Collins.
“Si optimis. Itu mereka yang mengatakan kita akan bebas saat Natal”
Lalu Natal datang dan pergi.

Kemudian mereka berkata “Kita akan bebas saat Easter (Paskah)”.
Lalu Easter datang dan pergi. Kemudian Thanksgiving dan Natal lagi.

“Dan akhirnya mereka mati dengan patah hati” jawab Stockdale.
“Ini adalah pelajaran penting. Kamu tidak boleh bingung antara keyakinan bahwa akhirnya kamu suatu saat akan menang- dengan disiplin menerima fakta paling brutal dari realitas yang sedang terjadi, apapun bentuknya”. Artinya, “Natal kali ini kita tidak akan bebas. Terima saja kenyataan”.

Baca kisah ini membuat saya teringat sebuah diskusi yang mematahkan superioritas saya pada notes seorang sahabat tentang kultumnya ust. Yusuf Mansyur. Beliau  menyatakan ‘jangan2 selama ini kita men’tuhankan ikhtiar kita??’. Begini kira-kira:

“Selama ini saya menganggap bahwa jika mau hasil terbaik maka ikhtiar lah yg terbaik. Ya begitulah. Jadinya kalo saya telah merasa melakukan yg terbaik dan tidak mendapatkan yg terbaik maka saya meng’gugat keadilanNya dan arogan bertanya kenapa??
Padahal bukan kah prerogatif Allah swt utk menentukan apapun yg Dia mau ya wong..respiratory rate saya,nadi saya, suhu saya, range of motion saya dan semua yg bs bikin saya berikhtiar yg terbaik jg adalah milikNya..
Hah..jadi selama ini pelajaran tentang takdir,ikhtiar dan tawakal saya belum lah integral..
Jadi..dimana letak ikhtiar kita..atau lebih ekstrim nya ngapain usaha yg terbaik kalo ada peluang gak dapet yg setimpal??
Non, ikhtiar mah kewajiban..
Kewajiban yg ngaku hamba..lagipula Allah swt maha baik Dia gak akan membebani kita dgn sesuatu yg gak sanggup kita memikul nya..

Masih denial juga? Masih inget org sholeh yg ngotot masuk surga krn amalnya?! Dan ternyata ibadahnya seumur hidup jauh lbh ringan dari nikmat sebelah matanya..

Masih nanya juga kenapa kita harus berikhtiar,berdoa yg terbaik?
Tersebutlah seorang hamba yg terkejut melihat gunungan amalnya,tak merasa ia memiliki amal sholih sebanyak itu selama hidupnya, bertanyalah si hamba
‘ya Allah,amal sholeh yg mana yg menciptakan gunungan pahala setinggi itu?’
Terjawablah tanyanya
‘sesungguhnya itu adalah pahala hasil doamu yg tidak Aku kabulkan’
Si hamba msh ternganga dan berkata
‘jika begitu aku sungguh berharap tak ada doaku yg Kau kabulkan..’
Jangan pernah berhenti sejenakpun meyakini keadilan dan ke’maha kuasa’an Nya..”

Well, tawakal itu ramuan manis antara optimism dan pengakuan akan Keagungan Tuhan kan ya? Yah, setidaknya itu insight yang saya dapat dari Stockdale. Lagi-lagi yang harus diperjuangkan itu niat baiknya, masalah hasil harus tawakal. Ya, tawakal dalam setiap fase ikhtiar, bukan tawakal saat kita mentok, saat superioritas kita kisut, tapi tawakal sejak fase niat untuk lillahi ta’ala hingga akhir.

“Istirahatkanlah dirimu dari melakukan tadbir (mengatur urusan duniawi) dg susah payah. Karena, sesuatu yg telah diurus untukmu oleh selain dirimu (sudah di urus oleh Allah),tidak perlu engkau turut mengurusnya.”
“Kesungguhanmu mengejar apa yg sudah djamin untukmu (oleh Allah) dan kelalaianmu melaksanakan apa yg dibebankan kepadamu,itu merupakan tanda butanya bashirah (mata batin).”
(Al Hikam, Ibn Atha’illah)

Inna ma’al usri yusro…Baiklaah, ini tugas di depan mata saya coba kerjakan satu per satu hehe…

~whew, curhat lagee! hahaha, credit to Tiw-tiw kali ini~

5 thoughts on “dilarang me(T)uhankan ikhtiar!!

  1. ilustrasi lain dari tawakal yang cocok bagi saya : jangan lupa menambat Unta, setelah menambat Unta dengan baik barulah menyerahkan sisanya kepada Allah SWT.

    Posting “curhat” yang mengispirasi danmengingatkan saya mbak Ami. Kita memang masih hidup dalam lingkungan yang sering melupakan peran kehendak Allah SWT.

    1. Silakan Bang! (halah menyebarkan curhatan haha!)

      Eh,menambat unta, Bang?? bagaimana itu?
      Kalau kisah lain yang cukup inspiratif tentang tawakal bagi saya strategi Bakar Kapalnya Thariq Bin Ziyad, Bang… Siap mati tapi bukan bunuh diri.. keren itu!🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s