its never easy being a parent

Malam ini dua orang mahasiswi datang konsultasi dengan pengakuan yang bikin saya shocked!

“Ibu, saya sebelumnya minta maaf, saya cuma takut, saya bingung…” (and bla..bla..bla..salah satu dr mereka menggunakan prolog yang sangat panjang sebelum ke inti cerita dengan gesture cemas,takut, dan bahkan isak tangis mulai terdengar..)

“Jadi sudah lama sebenarnya, teman sekamar kami suka ngajak nginep teman cowoknya. Dia sering pulang kemaleman sesampainya di asrama. Saya tahu itu nggak boleh, Bu. Saya sudah nolak, tapi akhirnya saya malah dimusuhi teman-teman saya.” (dan sepertinya saya cukup tahu siapa pasangan tersangka yang anak ini maksud, sudah mendapat laporan sebelumnya dari satpam soal mahasiswi yang sering pulang malam sama cowoknya. Sudah disuruh menghadap, tapi sepertinya tidak berani dia)

“Sungguh Bu, saya tidak tahan. Saya kan berjilbab, Bu. Sebelahan kamar sama laki-laki seperti sekarang saja bikin tidak nyaman. tapi bagaimana lagi, Bu…saya sperti dimusuhi teman-teman seangkatan”

Gyaaa!!! pengen tereak rasanya. Langsung sajalah beberapa instruksi operasional saya sampaikan ke dua mahasiswi ini. Minta hubungi kalau ada kejadian yang sama. Pesan ke satpam untuk keliling mengecek kamar asrama. Laporan ke rekan dosen laki-laki biar lebih mengontrol mahasiswa putra. Termasuk menyemangati dua bocah ini supaya lebih pede kalau merasa melakukan tindakan benar (aah, peer pressure, kejam buat orang-orang lemah pendirian).

saya kira malam ini akan berjalan cukup tenang, tapi ternyata paginya datang sms:

“Ibu, maafkan saya yang masih penakut ini, semalam itu cowok nginap lagi di kamar kami…”

Gosh! Apa sebenarnya yang ada di otak mereka??? hey! GROW UP!! sudah masuk fase dewasa muda seharusnya kalian..

Jadi ingat obrolan dengan Deborah, mahasiswi Jerman yang sedang mengerjakan tesisnya tentang South East Asia Study di Indonesia

“I say its weird, to not give the children education about pregnancy pills or condom. You, Indonesian people, keep your children for not having sex before married but in fact there’re much unprepared young couple who -what it is called- married by accident. It’s weird!”

“you know, its different between promote free sex and sex education -by providing condom or pregnancy pills-. I think they need it,” simpul Deb.

Kami (saya dan mbak arie) cuma mesam-mesem berusaha menjelaskan dengan keterbatasan kosakata menggambarkan kompleksitas masalah ini.

It’s complicated, Deb..we can discuse it more later..

well, something must be done untuk masalah yang saya hadapi: rearranged pembagian kamar, pedekate dg lebih intens ke mereka, dan satu lagi kerjaan midnite saya: bantuin satpam keliling asrama ngecek kamar-kamar mahasiswi…

Dan ketika saya menceritakan panjang kali lebar kali tinggi via telpon sebagai laporan sehari-hari ke Ibu saya, beliau cuma tertawa dan bilang, “Yaa begitulah anak-anak sekarang, tantangannya makin banyak.. hehe…Padahal baru jadi ibu bo-ongan ya, mbak?”

Huuh!! kali laen ketemu pasangan yang sedang dimabuk cinta ini saya cuma akan bilang: Saya nggak suka ngelarang-larang! Terserah!! Asal resiko tanggung sendiri!! (hiks, gw ini ngajar mahasiswa ato anak SMP sii..ababil deh)

Yea, it’s DEFINITELY never easy being a parent, even just in a roleplay like I do.

Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

(doa favorit saya sedari kecil hingga kini🙂 )

ish..ish..postingan orang stress, ignore saja hehe

4 thoughts on “its never easy being a parent

  1. Agree!… even though having a baby is a most excited thing in my life right now..but i do realize that “it’s DEFINITELY never easy being a parent”. Like what Gilbert said in Eat Pray Love: “Having a baby is like getting a tattoo on your face. You really need to be certain it’s what you want before you commit.”

    And correction, darling.. Deb’s thesis is about Migrant Worker. South East Asia Study is her major in Goethe University😀.

    1. Shankyu, mbak!

      dan bahkan sampai beberapa menit yang lalu gw masi dipusingin masalah ini. Heran, kagak bs diajak membangun kesadaran kritis ternyata (Deficient in intelligence and proriety, indeed)

  2. hahaha..karena linier aja kejadiannya sama kita ngobrol bareng sama Deb, dan lagi habis itu juga belum ada sesuatu yang menginspirasi lagi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s