hanya isyarat

hanya isyarat

kupandang ke sana: isyarat-isyarat dalam cahaya…
kupandang semesta
ketika Engkau seketika memijar dalam kata…
terbantun menjelma gema. malam sibuk di luar suara…

kemudian daun bertahan pada tangkainya…
ketika hujan tiba. kudengar bumi sediakala…
tiada apa pun di antara kita: dingin
semakin membara sewaktu berhembus angin…

-Sapardi Djoko Damono [1968]-

2 thoughts on “hanya isyarat

    1. yang inikah, Ly?
      “tak ada yang lebih tabah
      dari hujan bulan juni
      dirahasiakannya rintik rindunya
      kepada pohon berbunga itu

      tak ada yang lebih bijak
      dari hujan bulan juni
      dihapusnya jejak-jejak kakinya
      yang ragu-ragu di jalan itu

      tak ada yang lebih arif
      dari hujan bulan juni
      dibiarkannya yangtak terucapkan
      diserap akar pohon bunga itu”

      Hum, aku suka puisi diatas karena berasa lebih abstrak. Terutama di pilihan frase yang berlawanan antara ‘dingin’ dan ‘membara’. Perpaduan ‘ketidaksepadanan kata’ yang unik.
      Lagi pula bisa pas waktu baca itu pas denger lagunya Dee di rectoverso yang “hanya isyarat” dan memang lagi hujan eheheh😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s