sambung-menyambung menjadi satu: ITULAH INDONESIA.. :|

Saya ingin berbagi pengetahuan, yang tidak akan Anda temukan di koran.

Suatu hari saya ditanya sama wartawan Bule, apa penyebab banjir di Jakarta? Saya katakan; “Korupsi.”

Dia bengong. “Bagaimana bisa? tanyanya lagi. Saya katakan, korupsi memang salah satunya. Lainnya adalah bla….bla….bla.

Lalu saja ajak dia muter-muter Jakarta. Saya hubungi kawan saya yang wartawan untuk tahu di mana ada pengerukan selokan. Sang kawan memberi tahu. Saya dan bule itu mendatangi tempat yang dimaksud.

“Saya katakan, itu ada pengerukan selokan. Lihat, ada wartawan televisi, koran, dan media online,” kata saya. “Nah itu sang orang nomor satu di bagian tukang keruk tingkat municipal.”

Lalu saya bilang lagi; “Kita lihat saja dari jauh. Mungkin butuh waktu beberapa jam untuk mengamati perilaku korupsi orang-orang itu.”

Kira-kira tiga jam saya dan si Bule berada tak jauh dari tempat itu. Tatkala semua wartawan pergi, pekerjaan terhenti. Sampah kerukan dibiarkan begitu saja, tak diangkut.

Saya katakan; “Lihat mereka meninggalkan pekerjaan begitu saja, tidak akan dilanjutkan. Kalau pun dilanjutkan hanya untuk angkut hasil endapan, dan menutup selokan.”

Si Bule mengerti, begitulah korupsi sebagai penyebab banjir. Semua itu berlangsung setiap pekan dan sepanjang tahun. Dananya miliaran. Sebanyak 30 persen hanya untuk biaya pengerukan asal-asalan, 70 persen dimakan pejabat dan bawahan-bawahannya, plus wartawan.

“Tidak ada yang mengontrol?” tanya si Bule.

“Tidak ada. Kalau pun ada yang wartawan. Tapi wartawan menulis berita kebobrokan mereka hanya untuk memeras,” kata saya. “Pejabat tahu menjinakkan si wartawan. Bayar sedemikian besar, yang penting korupsi jalan lancar.”

Itu yang kecil. Anda bisa lihat yang lebih besar. Yaitu pengerukan sungai. Tendernya, misal Rp 10 miliar. Proses tender akal-akalan. Sebut saja pemenangnya si A.

Sebanyak 30 persen nilai proyek diberikan ke kontraktor pengeruk ke para pejabat yang memenangkannya. Lainnya untuk ongkos ini dan itu.

Ingin untung besar? Gampang. Sewa kapal keruk tempatkan di sungai, dan jangan operasikan sampai sekian lama. Kalau pun beroperasi, hanya saat peninjauan saja.

Jadi tidak ada yang dikeruk. Namanya saja tender pengerukan sungai. Praktenya, pengerukan duit negara. Hebat.

Ada lagi yang paling baru, jika nggak percaya silahkan cek ke sekolah-sekolah.

Komisi E DPRD DKI memaksa Dinas Pendidikan melengkapi sekolah negeri dengan perangkat teknologi yang disebut MEMS. Perangkat itu diperkenalkan oleh Promothean, produsen asal Inggris, di SMA 23.

Saya tanya ke pihak sekolah apa itu MEMS. Jawabannya; Multisystem Educational Multimedia Sourcing. Telinga saya bekerja sempurna, menangkap kejanggalan itu.

Saya tanya Mbah Google apa itu MEMS. Jawannya: Metochondrial Electromagnetic System. Lho koq beda. MEMS sebagai multisystem educational multimedia sourcing nggak aa sama sekali.

Lalu saya iseng buka situs resmi Promethean. Ternyata yang dimaksud MEMS adalah ACTIVBoard 300 Series 78, 87, dan 95 inci. Yaitu whiteboard LCD. Anda bisa menulis di layar LCD itu dengan pena khusus. Ada pula yang namanya ACTIVRemote, dan lainnnya.

Dalam daftar pengadaan barang Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat disebutkan pengadaan untuk 8 unit MEMS sebesar Rp 4 miliar. Artinya, satu unit MEMS, yang tak lebih ari ACTIVBoard, adalah Rp 500 juta.

Ah, iseng-seng cek harga resmi di Promethean. Nggak ketemu. Saya cek ke twenga.com, eh ketemu. Harganya, paling mahal 3585 poundsterling atau 51 juta Rupiah.

Saya iseng mencari, lewat internet, adalah agen ACTIVBoard di Jakarta. Ternyata ada. Namanya Visitelecom (silahkan klik visitelecom.com).

Dari situ saya ketahui harga jual perangkat itu di Jakarta adalah Rp 112 juta, plus pemasangan dan layanan purna jual.

Jadi, uang negara yang ditilep adalah Rp 500 juta dikurang Rp 112 juta (itung sendiri). Temuan saya ini saya beri tahu ke kawan wartawan.

Dua hari kemudian si wartawan datang lagi, dan mengatakan; “Kita ditawarkan Rp 300 juta. Bagaimana?”

Ambil jangan ya.

Jika Anda tak setuju saya mengambilnya, sebarkan cerita ini kepada siapa pun. Ini bukan fiktif, karena Anda bisa mengeceknya sendiri lewat internet.

Komentar ini disampaikan oleh Sumanto DJ dalam salah satu artikel warga Politikana, ntah siapa saya juga tak kenal. Artikel tentang Korupsi yang awalnya saya tidak begitu serius membacanya, namun begitu komentar ini terlontarkan, jadi berkaca sendiri. Bukan suatu hal yang tak mungkin komentar itu fakta adanya. Memangnya kenapa kalau fakta?

Maksud saya, korupsi tersebut sudah merupakan bagian dari karakter budaya. Lingkaran setan-lah (eh, bukankah tiap orang bilang gitu seputar korupsi?)

Well, lingkaran setan ini kalau kita lihat secara globalnya, namun, sebagaimana INTP yang suka berkaca (narsis itu mah :P) dan tak suka meninggalkan masalah tanpa solusi, serta suka ribet sama detail yang bahkan kadang bikin saya ribet sendiri, maka saya lebih suka melihat kapasitas personal sebagai bagian dari budaya tersebut. Jangan-jangan karena kebodohan-kemalasan-ketidakberdayaan-ketidakacuhan maka diri sendiri telah bergabung dalam konspirasi praktik korupsi.

[Tatkala semua wartawan pergi, pekerjaan terhenti. Sampah kerukan dibiarkan begitu saja, tak diangkut.] dalam kapasitas kecil: kebiasaan membuang sampah sembarangan.

[Saya tanya ke pihak sekolah apa itu MEMS. Jawabannya; Multisystem Educational Multimedia Sourcing.] baiklah, ini bahasan terkait optimalisasi fungsi otak. Well, saya sering berinteraksi dengan orang-orang yang ‘subhanallah’ etos kerja dan pengabdiannya untuk bangsa. Namun kelemahan yang sering terjadi adalah cepat kagum dengan istilah-istilah ilmiah, sistem IT, atau apapunlah yang terdengar keren. Dan satu lagi: gelar yang seolah sebagai garansi akan profesionalisme seseorang. Padahal seringkali -saya rasa- sistem itu bisa dipelajari sendiri, bahkan untuk orang yang tak menyandang gelar pun. Ekslusifisme karena hanya bergaul dengan rekan sejawat rasanya mengarah menjadikan seseorang bak ‘katak dalam tempurung’.

Dan idealisme? kata ini pun punya sisi bahaya sendiri: seringkali turut membatasi pergaulan, sehingga kurang pengetahuan juga. Menyatakan bahwa bersama-sama kita bisa ini, kita bisa itu, namun kondisi real dilapangan pun tak paham. Kompleksitas tantangan tidak tergambar. Berusaha membangun sistem sendiri namun malah jadi picisan. Gosh, bukankah kalau memang mau berguna secara universal, mau tak mau juga bersinggungan dengan sisi ‘itu’ a.k.a menghadapi sistem yang sudah korup. Mungkin memang masih dapat dihindari kalau berpraktik dalam skala kecil, namun untuk skala besar?? dan lagi, kemaslahatan umat bukankah tetap menuntut untuk bermain dalam praktek nyata berskala besar?? Nah, bak katak dalam tempurung kan??😀

Dan parahnya, saya pun sering merasa seperti katak dalam tempurung dengan kurangnya kontribusi nyata tersebut😦

ejadi, solusinya apa?

Ya itulah,berantas budaya korupsi mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang! (halaah…nggak inovatif)

*postinganlabilbingalau*

4 thoughts on “sambung-menyambung menjadi satu: ITULAH INDONESIA.. :|

  1. Perlu dibentuk badan pengawas kegiatan pembangunan yang diisi orang yang tidak bisa disuap.
    Siapa saja itu?
    Kebanyakan, mahasiswa setelah lulus menjadi lupa akan idealisme di masa kuliah -_- Persoalan ini yang harus diselesaikan dulu.
    Kemudian, dari awal, saya tidak sependapat dengan kalimat AA Gym, yang “dimulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang”. Ini menjadikan orang-orang mempunyai starting point yg kecil.
    Untuk memberantas korupsi, pemerintah harus bisa memberantas dimulai dari semua pihak, dimulai dari yang besar, dan harusnya dari kemaren-kemaren😀

    1. wakakak..jd malu dikomenin Ade.
      [Perlu dibentuk badan pengawas kegiatan pembangunan yang diisi orang yang tidak bisa disuap]
      yang kek gmana lagi, De? KPK? ICW? saya g punya kapasitas mengkritisi kinerja mereka sih, tapi memantau kasus Gayus kemaren, ya..cukup tahulah kalau tugas mereka tak mudah.
      [kebanyakan mahasiswa setelah lulus menjadi lupa akan idealisme di masa kuliah -_- ]
      rumit juga ini, saat di kampus, homogenitas sangat mendukung. Namun pasca kampus, mereka harus memikul nama masing-masing. Bagus jika bisa cepat adaptasi, tapi tak sedikit pula yang masih ingin kembali ke dunia macam di kampus, yang seharusnya bisa mereka bangun di luar kampus (mereka?, lo juga termasuk kali mi😦 ). Belum lagi, tujuan mahasiswa menjadi aktivis kampus dulu juga beragam. Dari yang mulai hanya belajar, benar-benar ingin memperjuangkan idealismenya, hingga yang ternyata punya tujuan khusus agar dekat dengan pengampu kebijakan. Jadi mahasiswa yang seperti apa?
      [ dari awal, saya tidak sependapat dengan kalimat AA Gym, yang “dimulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang”. Ini menjadikan orang-orang mempunyai starting point yg kecil.]
      hahaha..memang bukan solusi yang bagus. Saya cuma merasa bahwa manusia sebagai individu jugalah yang nantinya secara kolektif membentuk budaya anti korupsi tersebut.
      Kalau masalah mentalitasnya, saya serahkan masing2 sih, seberapa persistennya untuk tidak melakukan korupsi.
      Tapi paling tidak, seperti kasus korupsi pendidikan di atas, jikalau pihak sekolah cukup ‘jeli’ atau ‘cerdas’ seharusnya tak menerima begitu saja usulan proyek tersebut. Lha wong selisih harganya gedhe gitu.
      Itu yang saya maksud dengan [jangan-jangan karena kebodohan-kemalasan-ketidakberdayaan-ketidakacuhan ] atau entah apalah namanya, sehingga memberi kesempatan pihak lain untuk korupsi. itu salah satunya. Salah lainnya, seputar etos kerja, yang akhirnya bikin sistem bertele-tele hingga akhirnya banyak yang -mau tak mau?- mengambil jalan pintas.
      Pemerintah itu terdiri dari individu-individu juga kan?

      Gitulah, karena sudah menjadi lingkaran setan, maka yah, menurut logika saya lagi sih, baru bs melawan kalau bisa terbebas dari lingkaran tersebut (karena korupsi terhubung dengan uang, maka buatlah semacam mesin uang yang lebih besar dari tawaran korupsi :P)

      Gak tau juga sih, De. Kompleks. Makanya lebih gampang jawab secara kapasitas individu hehe..:D

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s