Life Operating System

Membicarakan tentang nasib, permainan takdir, dan peran Tuhan di dalamnya memang seringkali tak berkesudahan. Apalagi jika akhirnya dipersepsikan ke dalam kehidupan sendiri. Untuk hal yang konstruktif bagus, namun jika malah menjurus pada kondisi ‘terible me’ itu berbahaya.

Pernah merasa terpuruk? merasa tidak optimal menjalankan peran hidup? Sedikit menyesal? Ingin kembali dengan mesin waktu ke jaman dulu? Kenapa baru tersadar sekarang? kenapa tidak dari dulu?? kenapa ia yang masih muda sudah bisa? sementara kita baru mencapai stage ini??

Yah, itu tindakan reflektif yang berlebihan saya rasa. Bahaya jika akhirnya hanya membuat terpuruk dan tidak konstruktif.

Tapi bukankah hidup seringkali memang demikian? Tepatnya bukan ‘tidak sukses’  atau ‘tidak berhasil’ namun ‘belum’. Ya, belum. Karena memang hidup dibuat berputar-putar dulu. Banyak variabel yang mempengaruhi. Mungkin memang Tuhan maunya begitu. Operating sistemnya sudah dirancang begitu.

Ingat kisah Siti Hajar saat ia dan bayi Ismail ditinggalkan Ibrahim di tengah padang pasir kerontang?

Bayi Ismail yang menangis kehausan, tentulah membuat ibunya panik, apalagi  air susu Ibu pun telah kering. Ini faktor penting, penggerak. Keinginan menyelamatkan anaknya membuat Siti Hajar bergerak. Dia tak bisa diam terus tanpa usaha hingga akhirnya spontan dia berdiri dan pandangannya menyapu sekeliling gurun pasir dan di sanalah ia melihat genangan air.

Berlarilah siti hajar ke arah genangan air itu, namun apa yang dijumpai? Yak, tepat. Fatamorgana. Dan kejadian ini berulang-ulang. Membuat ia berlari dari satu bukit, menuju bukit yang lain. Hingga tanpa dia sadari telah bolak balik bukit sofa dan marwah sebanyak tujuh kali demi sang buah hatinya.
Apa yang terjadi? ternyata air malah muncul dari ketukan-ketukan kecil kaki bayi Ismail yang menangis.

“Alhammdullillah..Zam..Zam..Zam!” (berkumpulah,berkumpulah)

Kalau sedang iseng main-mainan logika, tidak mungkin kan mata air itu baru muncul hanya karena ketukan bayi? seharusnyalah sudah berada ditempat itu sedari awal, jauh sebelum mereka tiba.  Namun kenapa harus pakai ritual mengelilingi 2 bukit hingga 7 kali? dan kenapa pula ritual ini harus kita ikuti?

Pengingat. Yah, bentuk pengingat pada manusia bahwa begitulah Operating System kehidupan berjalan.

Kepanikan, rasa kasih, itu merupakan energi utama penggerak kehidupan. Kadang atau bahkan sering kita berlari hanya menuju fatamorgana kehidupan. Jika hanya berfokus pada hasil (kesuksesan), rasanya memang kurang efektif. Ribet benar hanya untuk mencari mata air yang harusnya ada didepan mata, malah berlari mendaki ke tempat lain. Tapi yah, justru itu seninya. Kalau pakai ‘The doctrine of utilitarianism’, kepuasan manusia justru tiba saat akhirnya berhasil meraih sesuatu dengan susah payah. Toh definisi kepuasan dapat meliputi banyak dimensi: fisik, akal dan ruh. Nah, semacam itulah…

Lalu di mana peran Tuhan? Momen-momen manis seolah kebetulan yang mempermudah jalan, kelokan arah yang justru terjadi saat kita berusaha lurus dan setahu kita yang terbaik itu lurus (namun ternyata itu kelokan jalan itu yang paling tepat), penyadaran akan tujuan yang ternyata hanya fatamorgana, blessing in disguise…Banyak.

Pada bayi Ismail, mungkin memang perlu beberapa desiran kaki bayi yang lembut untuk menguak mata air yang tersembunyi. Perlu waktu sebagai bumbu kenikmatan usaha. Hingga tibalah momen terindah bagi Siti Hajar saat mata air memancar dari ujung kaki Ismail. Ya, dengan momentum terindah itulah bagaimana Tuhan menjawab ikhtiar manusia. Toh apapun, rizki, jodoh, kelahiran, kematian sudah digariskan. Setiap orang pasti akan mendapat jatahnya, hanya cara yang membedakan perolehannya. Apakah akan disorongkan dengan lembut, atau dilemparkan begitu saja ke hadapan kita. Begitulah, menurut saya, terlalu banyak tangan Tuhan yang bertindak jika manusia mau sedikit rendah hati dan mengetahui. Maka nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Hum… Manusia memang sok tahu ya? (termasuk saya kali ini :P)

Jadi, pernah merasa tersesat di gurun pasir juga? Terus berlarilah menanjak! usah tengok belakang! Semoga dikuatkan!

‘ Ya Allah Tuhan kami, teguhkanlah hati mereka dengan mendirikan shalat, jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka, karuniakanlah rezeki kepada mereka. Mudah-mudahan mereka bersyukur kepada-Mu.’ (Q.S 14: 37, doa Ibrahim untuk istri dan anaknya)

P.S. : Selamat bulan Juni!

4 thoughts on “Life Operating System

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s