what if money was no object

Imagine life as a game in which you are juggling some five balls in the air. You name them – Work, Family, Health, Friends and Spirit and you’re keeping all of these in the air.

You will soon understand that work is a rubber ball. If you drop it, it will bounce back. But the other four balls – Family, Health, Friends and Spirit – are made of glass. If you drop one of these; they will be irrevocably scuffed, marked, nicked, damaged or even shattered. They will never be the same. You must understand that and strive for it.

_Bryan Dyson

5 thoughts on “what if money was no object

  1. Life is a game, play the game, don’t let the game play you – Me😀

    Manusia kota, dataran rendah, & pantai seringkali punya persepsi bahwa rezeki itu dipengaruhi oleh frekuensi silaturahim, mungkin karena kebanyakan mereka bertahan hidup lewat transaksi, perdagangan. Baik itu perdagangan barang, atau jasa.

    Manusia gunung, dataran tinggi, & pedesaan seringkali punya persepsi bahwa rezeki itu dipengaruhi oleh ekspresi alam, tak ada urusan dengan hubungan sesama manusia, mungkin karena kebanyakan mereka bertahan hidup lewat bertani, berkebun, dan beternak.

    Kedua nalar & persepsi tentang rezeki di atas, saya tidak membatasi pada arus uang& kapital, sekarang, kalau soal uang& kapital, bagaimana dong ?

    Persepsi manusia tentang uang seringkali pakai nalar induktif, terlalu personal, hubungan antara kerja keras, antar manusia, dan prestasi perusahaan, padahal mungkin tidak sesederhana itu. Ada proses penciptaan uang, yang nilainya harus sama dengan produksi item barang, dengan catatan itu riil, bukan pasar modal, atau trading surat hutang.

    Dalam hubungannya dengan uang, ini ada logika menarik, begini : Bisnis bisa berjalan ketika ada pasar, pasar bisa berjalan ketika ada warga pembeli& penjual, warga pembeli& penjual ada ketika ada wilayah legal, wilayah legal ada ketika ada sistem pemerintahan, sistem pemerintahan ada ketika ada bangunan kekuasaan negara, bangunan kekuasaan negara bisa ada& menciptakan pasar, ketika mereka punya kolateral untuk dijadikan ekuitas produksi uang. Produksi uang itulah yang menjadi otoritas pemerintahan, marwah negara ada pada kekuasaan untuk menentukan alat transaksi resmi.

    Jadi, apakah kemudahan& kesusahan mendapatkan uang itu dipengaruhi oleh institusi negara ? Kalau pertanyaan ini ditujukan buat kita yang hidup di sistem negara & rezim sistem keuangan modern, maka jawabannya adalah : SANGAT !

    Menarik ya🙂

  2. Lanjut, dalam rezim keuangan modern, yang berhak memproduksi uang adalah bank, & bank membutuhkan kolateral sebagai jaminan penurunan kredit.

    Bank adalah lembaga yang paling paham perputaran barang vs uang dalam sebuah area kawasan, dari situ mereka menentukan plafon kredit untuk memutar ekonomi.

    Dalam struktur kredit ( yang berbasis pada mekanisme hutang& riba ) ini, sangat logis kalau yang bisa meraih kapital sampai tahap tertentu, hanyalah orang- orang tertentu, dari kalangan tertentu pula, tidak dominan jumlahnya. Karena untuk bisa mendapatkan kredit permodalan, demi lahir & berkembangnya bisnis, adalah dengan menjaminkan aset, maka orang yang dapat modal sudah tentu bukan orang yang belum punya aset, berarti dia relatif sudah lebih kaya, dibandingkan orang pada umumnya.

    Dari mekanisme ini maka lahirlah koperasi ( cooperative movement) & sistem kredit berbasis transaksi ( bagi hasil- bagi resiko). Keduanya bisa jadi terobosan, & saya berharapnya sih, yang masih muda memahami anatomi kekuasaan kapital ini, karena secara global sistemnya sama.

    Irak disikat Inggris karena mau memakai Euro untuk transaksi komoditas utamanya, minyak. Libya disikat Inggris juga karena tidakmauan menggunakan sistem kredit berbasis hutang, yang diwajibkan rezim keuangan global. Inggris selalu pakai tangan AS, dengan alasan yang di cari- cari.

    Apakah ini konspirasi ? Konspirasi ada untuk dipraktekkan, bukan diteriakkan🙂 Orang selalu menyangka konspirasi itu politik, dimainkan politisi- politisi yang disorot TV, padahal sesungguhnya mereka cuma pemain drama, bukan sutradara, apalagi produser.

    Pahami peta sistem keuangan& permodalan, pahami mekanisme penciptaan uang, dari situ, dari nalar deduktif, akan kelihatan pemodelan anatomi kekuasaannya🙂

    Keep cool

  3. Oiya, soal Irak, Libya, atau Palestina sekalipun, sebaiknya tidak pakai logika perang agama, berebut minyak, atau penguasaan lahan. Coba cek dulu sistem perbankan sentral & transaksi internasional yang mereka gunakan, dari situ kelihatan, siapa yang paling berkepentingan …

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s